oleh Ana Ghoib Al Hina

Demikian di bawah adalah kisah Khalifah Umar Al Khattab dengan izin Allah menyembuhkan pesakit dan menunjuki pesalah atau pendosa dari penggunaan dan doa ayat Al Quran yang dapat dicontohi oleh umat terkemudian.

Artikel ini tertulis dari inspirasi kisah bagaimana militan ISIS yang menyerang Jakarta ditolak oleh orang kampungnya dari dikebumikan.

Ambil kisah seorang pendosa di zaman Musa a.s yang diperintahkan Allah agar Musa mengebumikannnya.

Disebut dalam sejarah baik dunia muslim mahu pun yahudi bahawa si pemuda itu menjadi demikian bukanlah kerana kemahuannya tetapi dorongan nafsu dan disesatkan syaitan.

Pembalasan itu urusan tuhan bukan tugas kita menghina mayat malah kewajiban menyempurnakan. Nanti terkutuk seluruh kampung kerana menolak fardhu ini dan ada hadis mengenainya.

Maka itu janganlah kita berterusan menghina pesalah apa pun beerti menolong syaitan tambah merosakkan mangsanya. – Wallahuaklam Berita Mimpi – #AnaGhoib al Hina

Umar Al Khattab – Kisah Orang Yang Benar 

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku seterusnya dari Yazid Al-Asam yang telah menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki penduduk negeri Syam yang mempunyai kekuatan (berpengaruh).

Dia biasa menghadap kepada Khalifah Umar r.a. sebagai perutusan kaumnya. Maka pada suatu hari Khalifah Umar merasa kehilangan dia, lalu menanyakan tentangnya, “Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan bin Anu?” Orang-orang menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, dia sekarang gemar minum-minuman (khamar).”

Maka Khalifah Umar memanggil juru tulisnya, lalu berkata kepadanya:

“Tulislah, dari Umar ibnul Khattab kepada Fulan bin Anu. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, sesungguhnya aku memuji kepada Allah dalam surat yang ditujukan kepadamu ini, bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat serta sangat keras hukuman-Nya Yang Mempunyai karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nyalah makhluk dikembalikan.” – [Ghafir 1-3]

Setelah itu Khalifah Umar menyerukan kepada teman-temannya agar mendoakan buat teman mereka, semoga ia sadar dan kembali bertaubat kepada Allah.

Ketika surat itu sampai kepada lelaki yang dimaksud, maka ia langsung membacanya berulang-ulang, lalu berkata: “Yang Mengampuni dosa, Yang Menerima taubat, Yang sangat keras hukuman-Nya.  Umar telah memperingatkan diriku akan hukum-Nya dan dia menjanjikan bahwa Allah akan memberikan ampunan bagiku.”

Atsar yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Na’im  dalam riwayatnya ditambahkan bahwa lelaki itu setelah menerima surat itu terus-menerus memperbetulkan dirinya hingga ia menangis, lalu menghentikan perbuatannya dan bersikap baik dalam taubatnya itu.

Ketika beritanya sampai kepada Khalifah Umar r.a., maka Umar r.a. berkata: “Cara inilah yang harus kalian lakukan bila kalian melihat ada seseorang dari teman kalian yang terjerumus ke dalam kekeliruan. Maka luruskanlah dia, teguhkanlah hatinya, dan mohonkanlah kepada Allah semoga Dia menerima taubatnya, dan janganlah kalian menjadi penolong syaitan terhadapnya.”

Dzit Thaul  – Yang mempunyai karunia. –  (Kalimah di dalam surah Ghafir atau Al-Mukmin: 3)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Yang mempunyai keluasan dan kecukupan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. Yazid ibnul Asam mengatakan bahwa Dzit Thaul artinya Yang mempunyai kebaikan yang banyak.

Ikrimah mengatakan bahwa Dzit Thaul artinya Yang mempunyai karunia. Qatadah mengatakan, Yang mempunyai nikmat dan keutamaan-keutamaan.

Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Swt. adalah Tuhan Yang melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang merasa tidak puas dengan semua karunia dan nikmat yang telah ada pada mereka, yang semuanya itu tidak akan mampu mereka mensyukuri salah satu pun darinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. (An-Nahl: 18)

Nota Ana Ghoib: Hikmahnya dari kisah di atas bolehlah juga diyakini menggunakan ayat tersebut dari surah Al Ghaafir sebagai ubat atau petunjuk bagi menyembuhkan ketagihan dadah, arak, rokok atau vape dan sebagainya yang menjadi perosak tubuh serta amal ibadat malah kesyirikan yang membinasakan serta menghalang dari jalan lurus akibat hasutan syaitan atau terkalah oleh HAWA NAFSU sendiri.

DOA SURAH GHAFIR 1-3

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Waqid, telah menceritakan kepada kami Abu Umar As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Mus’ab ibnuz Zubair r.a. di daerah pedalaman Kufah.

Lalu ia memasuki sebuah kebun dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Ia membuka salatnya dengan membaca surat Ha Mim Al-Mu’min hingga sampai pada firman-Nya: Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (Al-Mu’min: 3).

Tiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku yang mengendarai baghal ber­bulu perang dengan mengenakan pakaian burdah yamani.

Lelaki itu berkata: Jika engkau katakan, “Yang Mengampuni dosa, ” maka katakanlah olehmu, “Ya Tuhan Yang Mengampuni dosa, ampunilah bagiku dosa-dosaku.”

Dan jika engkau katakan, “Yang Menerima taubat, ” maka katakanlah olehmu, “Ya Tuhan Yang Menerima taubat, terimalah taubatku.”

Dan jika engkau katakan, “Yang keras hukuman-Nya, maka katakanlah olehmu, “Ya Tuhan Yang keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku.”

Maka aku menoleh ke belakang, dan ternyata aku tidak melihat seorang manusia pun, lalu aku keluar menuju ke pintu kebun itu dan bertanya, “Apakah kalian melihat seorang lelaki yang mengenakan kain burdah yamani?”

Mereka menjawab, “Kami tidak melihat seorang pun.” Maka mereka berpendapat bahwa lelaki tersebut adalah Nabi Ilyas a.s.

Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula melalui jalur lain dari Sabit dengan lafaz yang semisal, hanya dalam riwayatnya kali ini tidak disebutkan Nabi Ilyas a.s. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. – Ibnu Katsir


Ibnu Katsir menyatakan menurut suatu pendapat, Ha-Mim adalah salah satu dari asma-asma Allah; mereka yang berpendapat demikian memperkuatnya dengan ucapan seorang penyair yang mengatakan dalam salah satu bait syairnya:

Dia mengingatkanku kepada Ha Mim (Allah) saat tombak telah beradu, maka mengapa dia tidak membaca (mengingatkanku kepada) Ha Mim sebelum maju perang.

Disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi melalui Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq, dari Al-Muhalkan ibnu Abu Safrah yang mengatakan bahwa dia pernah menceritakan kepadanya sabda Rasulullah Saw. berikut ini dari orang yang mendengarnya langsung dari beliau Rasulullah SAW iaitu:

Jika kalian mahu mengadakan serangan malam ini, katakanlah, “Ha Mim, semoga mereka tidak mendapat pertolongan.” – Sanad hadis berpredikat sahih.

Abu Ubaid memilih riwayat yang menyebutkan, “Ha Mim, maka mereka tidak akan menang.” Yakni jika kalian mengucapkan, “Ha Mim,” niscaya mereka tidak akan mendapat kemenangan.

Penutup dari firman Allah: Dan ketahuilah! Bahawasanya dalam kalangan kamu ada Rasulullah (maka janganlah kemahuan atau pendapat kamu mendahului pentadbirannya); kalaulah ia menurut kehendak kamu dalam kebanyakan perkara, tentulah kamu akan mengalami kesukaran; akan tetapi (Rasulullah tidak menurut melainkan perkara yang diwahyukan kepadanya, dan kamu wahai orang-orang yang beriman hendaklah bersyukur kerana) Allah menjadikan iman suatu perkara yang kamu cintai serta di perhiaskannya dalam hati kamu, dan menjadikan kekufuran dan perbuatan fasik serta perbuatan derhaka itu: perkara-perkara yang kamu benci; mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang tetap menurut jalan yang lurus;  – (Al-Hujuraat 49:7)

Susunan Berita Mimpi – #AnaGhoib al Hina


Now You Know Dont Say Thank - Comment & Share